Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Budaya Sesajen di Dayeuhluhur Cilacap


DAYEUHLUHUR
. Sejak kecil saya akrab dengan sesajen. Di kampung saya, Rimpaknangsi, sekitar tahun 1980an, warga kampung kami terbiasa membuat sesajen dan menempatkannya di berbagai tempat atau acara. Dalam acara panen padi, bersih desa, sedekah bumi, sedekah gunung, sedekah kupat, di lokasi hajatan dan panggung pertunjukan wayang, saya biasa melihat sesajen. 

Saat ziarah kubur di hari-hari tertentu, kami juga membawa aneka kembang dan membakar kemenyan untuk sesajen. Bahkan dalam acara keagamaan pun, kami terbiasa menghirup bau asap khas dan mistisnya kemenyan. Misalnya di acara bada atau sedekah menjelang bulan puasa, saat takbiran, muludan dan lainnya.

Semua tradisi itu dipandu tetua adat di kampung kami, yang kebetulan masih satu keluarga dari leluhur saya. Turun temurun dari Aki Sanromi, Aki Nurwi, Abah Idut (Aki Soekardi). Semuanya masih satu keturunan keluarga saya. Turunan Ki Indra Jaya (leluhur Desa Hanum). Saat ini tetua adat dipegang oleh Kang Cocon dan Ka Ceceng. Dua-duanya kakak saya.

Tradisi adat itu tidak hanya dilakukan di kampung kami, tapi juga di dusun sekitar kampung kami. Cisagu, Ciloa, Sukaharja, Sudimampir, Cicukang, Picungdatar, Singaraja, Ketra, Serang, dan kampung-kampung di desa lain sekitar Dayeuhluhur.

Upacara Babarit
Upacara Babarit kupat yang Sering diselenggarakan di beberapa Dusun di Kecamatan Dayeuhluhur yang masih dilestarikan sampai sekarang.

Penampilan sesajen pun sangat khas dengan kembang warna warni, dalam wadah dari daun pisang (takir), disertai kopi, rujak, rokok, dan diwarnai asap dari kemenyan yang dinyalakan bara api. Bahkan kalau di lokasi hajatan, ada pisang, daging, telur dan bermacam-macam kueh panganan lainnya. Sewaktu kecil, sesajen itu sering saya jadikan arena “nyoro” bersama teman-teman lain. Lumayan makan besar untuk perbaikan gizi. 

Tak ada penjelasan dari tetua kampung untuk kami saat itu. Saya masih kanak-kanak, dan juga tak perlu menanyakannya. Tapi satu hal yang bisa saya kenangkan, wajah penduduk kampung kami begitu damai dan ceria setelah menyajikan sesajen. Tugas memelihara tradisi warisan leluhur sudah ditunaikan. Seperti anak-anak lain dan masyarakat awam, saya  tidak  mengetahui makna serta nilai yang terkandung dalam budaya sesajen. 

Saat remaja dan sedang menimba ilmu di kampus Islam, saya berusaha mencari definisi sesajen. Saya mempertanyakan fenomena tradisi tersebut pada tetua adat kampung kami. Karena bagi “orang islam kota”, budaya tersebut tergolong dalam perbuatan TBC (Takhayul, Bid├íh, Churafat). Kaum Wahabi menyebutnya musyrik.

Jawaban orang tua dan tetua adat kampung kami sangat dalam dan menyentuh relung hati saya. Memberi ruang pengertian yang jelas, membuka cakrawala dan pandangan saya akan warisan budaya, sejarah dan peradaban Nusantara. Memberiku makna akan falsafah “Siapa yang mengenal dirinya, maka dia akan mengenal Tuhannya.”

Sesajen merupakan sarana komunikasi penduduk kampung kami kepada kekuatan tertinggi yang telah memberi kehidupan dan yang menjadi pusat harapan atas berbagai keinginan positif. Kepada kekuatan-kekuatan gaib yang menurut pemahaman kami telah melindungi kami dan kampung kami selama ini.

Budaya Sesajen
Contoh sesajen yang masih ada.

Dalam acara tradisi sesaji, sajian, bada, atau semahan adalah mempersembahkan makanan, bunga dan benda lain yang disertai dupa dengan tujuan berkomunikasi atau berinteraksi dengan Tuhan Sang Pencipta melalui perantara para leluhur. Kami menyebutnya perantara, karena kami sadar akan keterbatasan diri kami yang nyata tak sepenuhnya sempurna. 

Kami sadar, bahwa kami lahir di tengah dua peradaban besar masa lalu di Nusantara. Galuh-Pajajaran di Sunda, dan Mataram di Jawa. Kami berdiri di tengah-tengahnya. Kami juga lahir dari masyarakat abangan dan kejawen, dimana sesajen menjadi salah satu contoh akulturasi budaya Hindu-Islam.

Kebudayaan ini menjadi identitas penduduk local kampung kami. Di wilayah Nusantara lain pun demikian, meski dengan ciri dan gaya yang (mungkin) berbeda. Kami tahu, Islam yang dibawa Wali Songo tak sepenuhnya menghapus budaya warisan Hindu ini. Hanya memberi definisi baru. 

Budaya sesajen menjadi sebuah identitas serta kearifan lokal penduduk kami dilakukan oleh semua pihak, baik kalangan keluarga, masyarakat awam, tokoh masyarakat maupun tetua adat. Selain sesajen, kami juga mewarisi kecap “Pamali” yang merupakan warisan peradaban adiluhung dari leluhur kami yang sampai saat ini tetap kami jaga dan pelihara.

Dalam konteks Islam yang rigid, kaku dan fanatik, sesajen dianggap bertentangan dengan al-Qur’an dan Hadist. Seiring dengan gencarnya dakwah dan modernitas yang masuk ke kampung kami, budaya sesajen dan pamali pun kian tergerus. Identitas kampung halaman kami pun semakin pupus.

Sebenarnya tanpa dakwah agama, sikap memusuhi, sikap antipati, di tengah masyarakat yang makin materialistis dan mengutamakan argumen logis, budaya sesajen mulai luntur. Khususnya di kampung kami, hal itu sejalan dengan jawaban tetua adat saat saya bertanya pada Aki Soekardi. Tradisi itu kian hilang, seiring berkembangnya zaman, serta tidak diminati oleh kalangan muda.

Saya nahdliyin, abangan dan moderat. Sama sekali tidak anti sesajen. Bahkan sangat respek kepada penduduk yang masih menyediakannya. Memuliakannya. Bagi saya, mereka adalah masyarakat dan manusia yang tahu akan keterbatasannya dan menyadari kita tak sendiri di alam raya ini. 

Saya tidak percaya dan menolak kebenaran pernyataan "Tuhan murka dengan acara sesajen".  Tuhan Yang Maha Kuasa tidak sesentimentil itu - nggak segitu bapernya -  menghadapi sesajen. 

Sebaliknya, penolakan sesajen itu merupakan cara merendahkan Tuhan yang Maha Besar dan Maha Kasih. Sama sesajen takut, sama topi Santa takut, dengar lagu rohani takut, tiup terompet takut. 

Hidup beragama dengan ketakutan, sok merasa benar sendiri, merasa paling suci dan menguasai surga dan neraka. Lalu memaksakan kebenaran agamanya sendiri. Menyakiti penganut agama lain. Sungguh menjijikan.

Sungguh banyak hal yang bisa saya petik dari tradisi sesajen maupun pamali di kampungku waktu itu. Tentang hidup, ngelmu dan kerukunan bermasyarakat. Terkadang kita hanya tahu satu kotak pengetahuan dan selalu menganggap itu paling benar. Tetapi sebenarnya banyak hal yang belum kita pahami dan dimengerti.

Semoga cerita dan tradisi budaya ala Nusantara tidak terkikis oleh budaya lain, baik westernisasi maupun arabisasi. Aamiin.

Pada akhirnya, 

Tak perlu aku menyeberang untuk mencari surga,

Tak perlu aku ke padang untuk temukan kedamaian.

Tak perlu kau meyakinkan aku kalau Tuhan ada disana.

Cukup disini, di kampung bagaian dari persada Nusantara,

Aku melihat senyum anggun wajah surgawi.


Penulis: Nana Suryana

Posting Komentar untuk "Budaya Sesajen di Dayeuhluhur Cilacap"